HIMA PERSIS PK STAI PERSIS

HIMA PERSIS PK STAI PERSIS BANDUNG

 


 

I. Perihal Neraka.

 

 

1.  Sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan?

2.  Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,

3.  Bekerja keras lagi kepayahan,

4.  Memasuki api yang sangat panas (neraka),

5.  Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.

6.  Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,

7.  Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

 

       Menurut Hadist yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir serta Hadist-hadist yang lainnya bahwasanya Rosulullah saw membaca surat Al-Ghasyiyah dan surat Al-A’la pada shalat Ied dan shalat Jum’at.

 

       Al-Ghaasyiyah adalah bagian dari nama-nama hari  kiamat, demikian menurut Ibnu katsir. Adapun yang dimaksud dengan Al-Ghaasyiyah sebagai nama surat dan tertulis pada ayat ini ialah betapa hebatnya hari kiamat itu kelak. A.Hassan dengan tafsir Al-Furqan mengartikannya dengan dahsyat. H. Zainuddin Hamidi dan Fakhruddin H.S. memberinya arti yang menyelubungi; karena semua orang pada hari itu akan diselubungi oleh rasa ketakutan dan kengerian menunggu keputusan nasibnya.

 

       Sedangkan menurut Al-Maraghi dalam tafsirnya diterangkan makna yang terkandung dalam kata Al-Ghasyiyah adalah hari kiamat. Dikatakan demikian karena pada hari itu kengerian dan kesengsaraan terjadi dan akal manusia tertutup.

                                                                                                                                             

       “Sudahkah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan/ hari kiamat ?” Kalimat ini tidak dimaksudkan sebagai kalimat Tanya sesungguhnya. Ia hanya dimaksudkan sebagai pembangkit rasa takjub bagi pendengarnya, disamping untuk memancing rasa ingin tahu pendengarnya kalimat ini berupaya mengarahkan pikiran dari pendengarnya tentang hari kiamat.  

 

       Allah memerinci keadaan manusia di mauqif ( arah-arah Mahsyar) pada hari itu. Mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu kaum kuffar yang durhaka dan kaum mu’minin yang baik. Tentang golongan pertama Allah berfirman pada ayat berikut ini :

                                         

       Pada hari itu tampak wajah-wajah penuh kehinaan dan kenistaan, oleh sebab menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan.

        

       Berikut ini firman Allah yang bermakna senada :

 

 “Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami Telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin."(As-sajdah, 32:12)

 

Dan firman Allah yang lain :

 

“Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk Karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, Sesungguhnya orang- orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.”(Asy-Syura, 42:45).

 

       Pada hakikatnya rasa hina dan nista terdapat dalam jiwa seseorang, tetapi dalam ayat perasaan tersebut diungkapkan lewat wajah. Hal ini tiada lain karena biasanya wajah seseorang menerjemahkan perasaan yang ada dalam jiwanya. Sehingga rasa hina dan nistanya pun tampak dari roman mukanya.  

 

       Pada ayat selanjutnya Allah menggambarkan sifat lain dari wajah-wajah tersebut melalui firman-Nya :

 

       Sesungguhnya orang-orang kafir tatkala hidup di dunia mereka bekerja keras dan penuh kesungguhan. Tetapi Allah menolak semua amal perbuatan mereka. Sebab mereka berbuat tanpa landasan keimanan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Padahal keimanan ini merupakan tiang utama bagi diterimanya amal perbuatan seseorang di hadapan Allah. Lebih dari itu mereka berbuat tanpa mengharapkan keridaan-Nya. Bahkan apa yang mereka lakukan dengan sepenuh daya dan upaya, tiada lain hanyalah untuk memusuhi dan memerangi Allah serta Rasul-Nya.

 

       Orang-orang yang berwajah demikian akan merasakan panasnya api neraka dan siksaanya. Sebab amal mereka hanya mendatangkan kerugian belaka. Menurut Al-Qasyani, setelah orang-orang itu dimasukan kedalam Neraka bekerja keraslah ia, berpayah lelah, berupaya hendak naik dan lari dari dalamnya karena sakitnya azab. Namun usaha itu tetap saja gagal, karena siksaannya belum selesai. Dan menurut al-Qasyani pula boleh juga ayat ini ditafsirkan bahwa keadaan orang-orang kafir itu semasa hidup didunia adalah orang yang selalu bekerja keras hanya untuk kemewahan dunia saja tanpa mementingkan untuk kehidupan akhirat.  

 

       Kesimpulannya sesungguhnya orang-orang  yang kafir tatkala hidup didunia mereka benar-benar telah beramal dan untuk itu mereka bersusah payah. Tapi hasilnya tidak ada, sehingga mereka kecewa dan menyesal.

 

       Kemudian Allah swt menjelaskan balasan yang akan mereka terima, melalui firmannya :

 

 

       Apakah hasil dari kerja keras berpayah lelah itu ? Apakah hasil dari tenaga yang telah dihabiskan itu ? Jawabannya adalah sebagaimana dari suatu pepatah “Diraut ranjau dihamburi” artinya segala kerja keras itu hanya menghasilkan nyala api neraka.

 

       Orang-orang yang berwajah hina tersebut akan merasakan panasnya api neraka. Tentang panasnya api Neraka kita tidak perlu membahas hakikatnya. Kewajiban kita hanya mengimani keberadaan dan keadaan tersebut. Dan Neraka adalah tempat bagi sekutu-sekutu perilaku kebathilan yang akan dimasukkan kedalamnya.

 

       Sesungguhnya para penghuni Neraka, jika mereka merasa haus dan dahaga, segera kepada mereka didatangkan air dengan kadar panas yang tinggi yang berasal dari sumber air neraka. Sehingga bukan kesegaran yang diperoleh akan tetapi penderitaan yang didapat.

 

3

       Didalam dunia ini pun ada orang yang merasakan demikian “Nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri.” Atau laksana orang meminum air laut setelah diminum tetap saja dahaga tidak hilang. Pengalaman seperti ini akan dirasakan diakhirat. Setelah menjelaskan perihal minuman selanjutnya dijelaskan perihal makanan penghuni Neraka, melalui firmannya :

 

       Sesungguhnya apabila penghuni Neraka merasa lapar dan meminta makanan didatangkan kepada mereka apa yang dinamakan Dari’, yaitu tumbuhan yang tidak membuat hewan menjadi gemuk. Dan bila mereka tidak memakannya keadaan mereka akan bertambah jelek. Selanjutnya Allah swt menjelaskan tentang ketiadaan manfaat makanan tersebut melalui firmannya :

       Makanan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pelepas rasa lapar dan tidak pula menggemukan badan. Makanan tersebut tidak berfaedah, makanya Allah swt menamakannya Ad-Dari’. Sesungguhnya makanan tersebut hanya sebuah kiasan saja. Sebab di alam akhirat tidak ada kejadian dengan pertumbuhan badan dan pelapukan sesuatu sebagai mana kehidupan di dunia. Semua yang terjadi di alam akhirat diungkapkan secara analogis dengan kejadian di dunia, dan bukan berarti sama atau sejenis.

 

       Dalam surah al-Haqqah disebutkan makanan penghuni Neraka :

 

 “Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah”. (al-Haqqah, 69:36)

 

       Disebut pula dalam surah al-Waqi’ah :

 

51.  Kemudian Sesungguhnya kamu Hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan,

52.  Benar-benar akan memakan pohon zaqqum, (al-Waqi’ah, 56:51-52)

 

       Dan dalam surat ad-Dukhan disebutkan :

 

 

 

43.  Sesungguhnya pohon zaqqum itu

44.  Makanan orang yang banyak berdosa.(ad-Dukhan, 44:43-44)

 

       Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa makanan yang ada di Neraka sesuai dengan kondisi Akhirat, yang diungkapkan dalam ibarat yang berbeda-beda pula. Sebagai gambaran pada kita tentang betapa kotor dan menjijikannya makanan tersebut. Oleh sebab itu kita dengan segala daya dan upaya berusaha menjauhi agar jangan sampai jatuh kedalam Neraka. Untuk itu dengan sepenuh hati kita harus menjauhi segala Aqidah yg rusak dan segala perbuatan yang mendatangkan kerugian bagi kita di akhirat kelak.

 

 

II. Perihal Surga.

 

8.   Banyak muka pada hari itu berseri-seri,

9.   Merasa senang Karena usahanya,

10.  Dalam syurga yang tinggi,

11.  Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.

12.  Di dalamnya ada mata air yang mengalir.

13.  Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan,

14.  Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya),

15. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun       .

16. Dan permadani-permadani yang terhampar

 

       Ketika Abu bakar As-shiddiq telah merasa dekat ajalnya beliau berwasiat kepada sahabat yang lainnya, supaya mengangkat Umar bin khattab sebagai khalifah penggantinya. Setelah Umar menerima wasiat tersebut beliau pergi menemui Abu bakar As-shiddiq dan setelah bertemu Abu bakar berpesan :

 

       “Ingatlah olehmu, hai Umar, bagaimana Allah memberi tuntunan dan peringatan bagi kita dengan perantaraan Rasul-Nya; tidak ada satu pun rangkaian ancaman kepada kita, melainkan selalu diiringi dengan ayat-ayat yang mengandung janji mulia dan gembira, melainkan diiringi di belakangnya dengan janji ancaman bagi yang durhaka. Demikian itu ialah supaya kita selalu ada pengharapan kepada Tuhan di samping takut akan azab-Nya, dan selalu takut akan azab-Nya di samping kita menaruh harapan.”

 

5

       Demikianlah yang selalu kita temui dalam rentetan ayat Tuhan, sebagai yang kita dapati dalam Surat al- Ghasyiyah ini. Sesudah sejak ayat 1 sampai ayat 7 berisi gambaran kengerian hari kiamat, diulaslah dengan berita gembira untuk orang yang taat kepada Tuhan di masa hidup;

      

       Setelah menjelaskan tentang hak-hak yang akan diterima oleh kaum kuffar yang durhaka, selanjutnya Allah menjelaskan balasan yang akan diterima oleh kaum Mukhlisin-Mu’minin, yaitu kemurahan Allah yang akan membawa kesenangan kepada mereka melalui firman-Nya :

 

       Pada hari itu wajah-wajah tampak cerah berseri-seri, sebagaimana digambarkan oleh ayat lain yang berbunyi :

 

        “Kamu dapat mengetahui dari wajah-wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan”. (Al-Mutaffifin 83 :24)

 

       Wajah adalah  kata mufradnya, Wujuuh adalah kata jama’nya ; artinya ialah muka. Dan muka yang dimaksud disini ialah jiwa atau hati kita. Karena raut muka menunjukkan dan sebagai gambaran dari perasaan jiwa sendiri.

       

        Dan ekspresi wajah semacam ini tidak akan terjadi kecuali pada mereka yang merasa puas dan bahagia atas balasan yang mereka terima sebagai imbalan dari amaliah-nya tatkala hidup di dunia. Allah telah rela kepada mereka dan untuk itu ia berfirman pada ayat berikut ini :

 

 

       Sesungguhnya mereka mengupayakan amal perbuatan mereka untuk memperoleh keridaan Allah. Sebab mereka mengetahui bahwa buah dan akibat yang akan mereka petik dari amaliahnya sangat baik. Perihal mereka sama halnya dengan seseorang yang bekerja, kemudian memperoleh imbalan yang baik, sehingga tampaklah kebahagiaan di wajahnya demi melihat akibat perbuatannya yang terpuji.

 

       Dengan pertanyaan Tuhan demikian, nyatalah bahwa nikmat berganda yang dirasakan kelak di Akhirat itu adalah bekas usaha dan amal semasa di Dunia dulu.  

 

       Setelah menggambarkan orang-orang yang berhak menerima pahala-Nya, selanjutnya Allah menjelaskan rumah tinggal mereka yang disimpulkan dalam 7 sifat berikut ini :

 

       Tempat mereka amat tinggi dan lebih tinggi dari tempat-tempat yang lain. Sebab surga itu mempunyai tingkatan, di mana antara satu dengan yang lainnya mempunyai ketinggian yang berbeda. Sama halnya dengan neraka yang memiliki tingkat kerendahan yang berbeda hingga tingkatan yang paling rendah, yaitu dasar neraka.

 

       Ketinggian yang dimaksud dalam ayat ini bisa pula diartikan dalam masalah derajat. Sebab sebagian kenikmatan surga mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain. Jadi kenikmatan yang diperoleh para Sabiqin, yaitu para nabi, Syuhada dan Salihin tentunya lebih tinggi derajatnya daripada yang diperoleh para Muttabi’in (orang-orang yang mengikuti mereka).

       Surga adalah tempat yang bersih dari perkataan yang tiada guna (omong kosong). Sebab ia berada di sisi Allah dan para penghuninya adalah mereka yang dikasihani-Nya. Untuk memperoleh tempat ini (surga), mereka telah bekerja keras dan penuh kesungguhan tanpa beromong kosong dan bermalas-malasan.

 

       Tersunyi dan bersihnya suatu tempat daripada perkataan-perkataan sia-sia, hamun dan maki, gunjing dan gujirak, melampiaskan rasa dengki dan hasad, membicarakan keburukan orang lain dan memfitnah, adalah salah satu yang menyebabkan dunia ini jadi neraka bagi hidup kita. Kalau tiap hari yang kita dengar hanya kata-kata yang berujung pangkal, jiwa kita rasa tersiksa. Maka dalam syurga itu kelak kata-kata demikian tidak akan kita dengar lagi. Yang akan kita dengar hanyalah ucapan tasbih dan tahmid, sanjung dan puji kepada Tuhan. Bersihnya suasana syurga itu dari kata-kata sia-sia, itulah keistimewaan syurga, yang tidak akan didapat dalam dunia ini.

 

      Bandingkanlah itu dengan suasana dalam istana raja-raja yang indah permai, cukup lengkap inang pengasuh, beti-beti prawara, pembawa panji. Kelihatan di luar istana itu yang gemilang, namun suasana di dalamnya kerapkali sebagai neraka. Karena di sanalah berlaku segala macam iri-hati, fitnah memfitnah, mengambil muka dan rasa takut akan tersingkir dari kedudukan.              

   

       Demikian pula halnya orang-orang mulia di dunia tempat mereka bersih dari omong kosong, kebohongan dan kedustaan. Jika demikian apalagi tempat yang mempunyai kedudukan paling tinggi di sisi Allah Yang Merajai alam semesta danYang Menguasai hati semua makhluk.

 

 

 

        Di dalam surga terdapat air yang terus bersih sekali dan sedap dipandang mata. Fir’aun pernah menyombongkan diri dalam hal yang sama, seperti dijelaskan oleh ayat berikut ini :

 

       “… Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku…” (Az-Zukhruf, 43 : 51).

 

       Mata air yang selalu mengalir, atau sungai-sungai yang selalu mengalir, dapatlah menjelaskan dalam ingatan kita betapa subur, betapa damai, betapa sejuk tempat di sana. Tempat yang tidak mengenal kepanasan musim panas (summer) dan kedinginan musim sejuk (winter) sebagai yang kita rasakan di dunia ini.

 

       Konon kabarnya, menurut uraian sejarah ahli-ahli arsitektur Arab di zaman jayanya di Andalusia atau di Isfahan, di Damaskus atau di Fez, di Arabis yang terkenal membuat air mancur di tengah lapangan rumah ialah ayat-ayat semacam ini dalam al-Quran. Sehingga betapa pun hebatnya musim panas, namun air memancur (fountain) di tengah pekarangan rumah itu membawa kesejukkan.      

 

       Tempatnya sungguh tinggi, dan jika seorang mu’min duduk di atasnya tampak olehnya segala kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, dan tampak pula olehnya para penghuni surga yang bergelimang dengan kenikmatan.

 

       Dalam ayat-ayat tadi tampak jelas penghormatan Allah kepada mereka :

 

       Di pinggir mata air jika mereka minum mereka mendapatkan gelas-gelas tersebut telah tersedia di dekatnya.

 

       Dan bantal-bantal yang tersusun rapi. Jika mereka menghendaki mereka bisa duduk diatasnya atau bersandar padanya.

8

       Atau jika mereka suka mereka bisa memakai sebagian bantal tersebut sebagai landasan duduk dan sebagian yang lain untuk bersandar. Pendek kata mereka bisa berbuat seenak dan sesuka hati mereka.

 

       Allah menghamparkan untuk mereka permadani pada setiap tempat duduk mereka . Di mana pun mereka duduk di situ terhampar permadani, sebagaimana hal ini tampak pada kalangan keluarga berada di seantero dunia.

 

       Melalui ayat-ayat tersebut Allah menggambarkan kemewahan para ahli surga dengan suatu gambaran yang bisa dipahami dan dicerna oleh akal. Sebab jika tidak demikian, niscaya kenikmatan surga tersebut tidak akan bisa dijangkau oleh akal manusia dan pula akan mendatangkan kesulitan dalam memahami bentuk dan rupanya. Secara keseluruhan kenikmatan surgawi yang telah diperinci oleh-Nya dengan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan dunia hanyalah dalam hal nama-namanya saja.

 

       Akan halnya hakikat dan jenis yang sebenarnya dari segala kenikmatan tersebut tidaklah sama atau mirip dengan yang ada di dunia. Tetapi bahkan jauh lebih tinggi nilainya, ssebagaimana diungkapkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas yang mengatakan, “Apa yang ada di dunia jika dibandingkan dengan apa yang ada di akhirat hanyalah tinggal nama-namanya saja”.    

 


Comments




Leave a Reply


HIMPUNAN MAHASISWA (HIMA) PERSIS PK STAI PERSIS BANDUNG